Headlines News :

Minggu, 30 September 2012

BUDAYA ANOMALI DAN WAJAH PENDIDIKAN KITA


Oleh    : Ahmad Erlangga Ferdianto
Ketua Umum HMI Komisariat Sosial Politik Unila


“ Sekarang bukanlah zamannya untuk memulai sesuatu yang tidak kita ketahui. Terutama golongan terpelajar mempunyai tanggung jawab yang lebih berat untuk mendapatkan pengetahuan tentang apa yang mereka anggap suci.” (Dr. Ali Syari’ati).

Pendidikan adalah sahutan paling ujung yang sampai dengan saat ini masih sempat dipercaya, ketika kecemasan dan hilangnya kepercayaan kepada semua hal. Kita semua cemas akan segala anomali dan kontradiksi yang sehari-hari menerpa layar kesadaran kita. Pada saat frekuensi kecemasan tersebut meningkat dan sementara institusi-institusi lain terlihat “lembek”, maka kecemasan itu pun kian menjadi. Dalam fase kecemasan yang amat tinggi tersebutlah kita menengok sekaligus mendamba akan peranan pendidikan.
Hematnya bahwa kondisi tersebutlah yang saat ini tengah dihadapi oleh segenap elemen bangsa Indonesia. Ketika berbagai macam informasi mengenai segala tindakan anomali dan perubahan pola sikap dan tata cara sosial merebak diberbagai media massa, yang kemudian diam-diam dalam hati mengundang rasa was-was akan sesuatu hal terjadi dimasa yang akan datang.
Tersebutlah fakta-fakta yang sangat memilukan dan menggoyahkan kesadaran kita mengenai wajah dunia pendidikan kita saat ini. Selayaknya manusia yang sejak kanak-kanak diperdengarkkan kidung pujian nan indah, mengenai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, kejadian tersebut jauh dari apa yang diajarkan disekolah mengenai nilai luhur Pancasila. Diantara tragedi tersebut ialah tawuran antar mahasiswa yang terjadi di Universitas Lampung (2011), dan daerah-daerah lain di Indonesia. Belum lagi kasus Pemerkosaan, dan pemakai obat-obatan terlarang yang banyak ditemui ternyata pelaku masih berstatus sebagai siswa dan mahasiswa.
Celakanya, hingga kini kita juga belum memperoleh kabar, seperti apa gerangan penyelesaian kasus-kasus serupa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Harap dicamkan bahwa rentetan kasus tersebut belum ditambah dengan catatan lain -yang mungkin setingkat dibawah- yang terjadi di negeri ini namun luput dari perhatian kita semua. Seperti fenomena menyontek pada saat Ujian Nasional, beredarnya kunci jawaban soal Ujian Nasional, dan sudah menjadi isu Nasional.
Secara umum kita mengenal bahwa pendidikan dibagi atas pendidikan formal, informal dan pendidikan non formal. Namun, sepertinya dari kesemua itu masih belum menunjukkan dampak yang positif, apalagi dua poin di awal, sampai dengan saat ini masih belum mampu menciptakan manusia-manusia yang unggul. Keadaan demikian menurut Imran DS terjadi karena pendidikan formal hanya bisa menyediakan know-know (keterampilan teknis) , yakni sebuah cara tanpa tujuan. Begitu pula dengan ilmu sosial dan politik dimana menjabarkan tentang kehidupan masyarakat yang ideal dan politik yang bersih hanya berdasarkan diktat dan teori, tanpa mampu diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan kata lain, dunia pendidikan sudah mampu memberikan kebutuhan tentang bekal dalam kehidupan praksis manusia. Namun ia membisu tatkala pertanyaan muncul : untuk apa dan kemana bahtera kehidupan ini menuju? Inilah yang tampaknya mendasari mengapa inovasi genetic engineering malahan membuka pintu penyalahgunaan baru, kamjuan dibidang nuklir, justru menawarkan malapetakan baru bagi manusia. Era perdagangan bebas, malah melahirkan godaan-godaan baru. Kehidupan sosial dan politik menawarkan kemewahan bagi beberapa kalangan dan menyengsarakan bagi banyak pihak.
Disisi lain dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pun cenderung pragmatis dan oportunis dalam rangka mencapai keinginan. Ditambah hilangnya rasa persatuan dan rasa memiliki bangsa ini, sehingga meminjam istilah Achdiat K. Mihardja adalah bangsa kambing yang bermakna bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah saling mengacuhkan satu sama lain, dimana kepentingan pribadi berada jauh diatas kepentingan kelompok. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat kehilangan sentuhan rohaninya. Yaitu sesuatu yang berpotensi memandu ke arah yang lebih beradab dan berbudaya.
Secara mengharukan, kenyataan ini dilukiskan oleh Charles Darwin dalam otobiografinya. Dalam tulisan yang menariki itu, Darwin menulis (meminjam dari EF Schumacher, 1973), “hilangnya cita rasa itu berarti lenyapnya kebahagiaan, barangkali merusak kecerdasan dan lebih-lebih mungkin berbahaya bagi moral, karena hal itu melemahkan kehidupan emosi kita”.
Hampir serupa pula, Dr. Ali Syari’ati melalui bukunya (Paradigma Kaum Tertindas, 1978) menyampaikan “Pendidikan terdiri atas bentuk khusus yang sengaja diberikan kepada ruhani manusia demi untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sebab jika orang dibiarkan berbuat semaunya, maka pertumbuhannya tidak akan sesuai dengan tujuan-tujuan kehidupan sosial”.
Kehilangan sentuhan ronahiah itulah yang akan menimpa manusia bila senantiasa mengejar kesenangan duniawi serta berpikir semata dalam kerangka akumulasi kapital. Kenyataan ini menjadi kian runyam ketika fondasi bangunan pendidikan justru turut berperan dalam menepikan aspek rohaniah itu dengan pemujaan yang berlebihan akan keterampilan teknis, tanpa diimbangi dengan penguatan rohaniahnya.
Hanya  bukan berarti argumentasi tersebut menganulir prihal pendidikan formal yang sarat akan kepatuhan, tata tertib dan upacara. Cuma semestinya “tahu diri” bahwa hal itu pun ternyata tidak mampu menjadi acuan perumusan gemilang bagi pembaharuan sumber daya manusia. Disamping itu mesti ada pebenahan yang harus segera dilakukan dalam rangka memperbaiki kekurangan yang ada. Oleh sebab itu, dalam rangka menjadikan dunia pendidikan sebagai alat memerangi masalah yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini, dan menciptakan manusia yang unggul bukanlah hanya terletak pada pundak pemerintah seorang. Namun segala elemen bangsa sudah semestinya bertanggung jawab pula dalam hal ini.
Pada umumnya menurut Ali Syari’ati ada lima faktor yang membangun pribadi seseorang. Pertama ibunya yang memberikan kepadanya struktur dan dimensi ruhaniahnya. Dengan rasa penuh kasih sayang sambil membelai dan menyusuinya sang ibu memeliharan ruhani serta menanamkan pendidikan sejak awal pada anaknya. Faktor kedua yang berperan adalah ayahnya, setelah itu dimensi yang ketiga adalah sekolahnya yang akan membentuk karakter pribadi seseorang. Faktor keempat adalah masyarakat dan lingkungan. Semakin kuat lingkungannya maka semakin besarlah pengaruh edukatifnya atas seseorang. Dan faktor yang terakhir adalah kebudayaan umum masyarakat ataupun kebudayaan umum dunia secara keseluruhan.
Persoalannya adalah mampukah keluarga bersama-sama dengan pemerintah (baca. Sekolah), bersinergi dalam menjalankan tugasnya; yaitu menanamkan pengertian bahwa pertumbuhan diri merupakan ‘matahari’ bagi segala gerak pendidikan dan daya inisiatif dan kreativitas adalah’mata uang’ yang nilainya tak pernah kendor, biarpun inflasi tiba dilangit.
Tulisan singkat ini dibangun dengan asumsi bahwa pendidikan, dan secara khusus keluarga, mempunyai peranan strategis dalam upaya mencegah (preventif) kejadian-kejadian serupa dimasa yang akan datang. Semoga kita semua melihat dari paradigma pendidikan dan urgensi pendidikan keluarga maupun pendidikan formal. Dimana pemerintah dan keluarga bertanggung jawab atas terbentuknya karakter sifat dari masing-masing individu, dan kegagalan pendidikan adalah kegagalan kita semua. Kalau bangsa ini tengah krisis moral maka keluarga dan institusi pendidikan sudah sepatutnya menciptakan pendidikan yang membentuk moral anak bangsa yang kedepan akan bertanggung jawab mengemban tugas sebagai generasi bangsa dimasa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HMI KOMSOSPOL UNILA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger