Headlines News :

Kategori

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

About Me

Foto saya
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bandar Lampung Komisariat Sosial Politik Universitas Lampung

Followers

Label atas

    Minggu, 30 September 2012

    ANOMALI DUNIA KAMPUS DAN MASA DEPAN BANGSA


    Oleh    : Ahmad Erlangga Ferdianto

    “ Sebagai mahasiswa dari negara dan rakyat yang sedang berbenah, saudara-saudara tidak bisa, melepaskan diri dari pergolakan dan gejolaknya perubahan tersebut, dan menempatkan anda pada posisi tertentu, suatu posisi yang padanya terletak suatu beban yang kita kenal sebagai Amanat Penderitaan Rakyat.” (Prof. Ruslan Abdhul Ghani:1964).

    Pernyataan seperti komitmen, concern terhadap persoalan keumatan, sebanarnya sangat populis ditelinga kalangan mahasiswa. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari keberadaan mahasiswa sebagai orang yang dikenal dengan sebutan agent of modernization, agent of social change, dan the creative minority.
    Sebagai seorang yang mendapat predikat seperti diatas, mahasiswa memegang tanggung jawab yang tidak ringan. Dia harus menunjukkan wajah yang beda dibandingkan orang yang tidak menyandang gelar seperti itu. Persoalannya adalah, apakah masih relevan sebutan atau predikat tersebut melekat kepada mahasiswa, yang kerjanya plagiat/fotocopy budaya, tawuran, atau yang lebih ekstrim menginfiltrasi ‘ideologi titipan’. Ideologi titipan yang dimaksud adalah memperjuangkan sebuah ideologi namun bukan berasal dari hasil cipta karsa sendiri, melainkan domplengan suatu oknum atau komunitas tertentu, yang tidak ada sangkut paut dengan dunia kemahasiswaan.
    Fakta tersebut tidaklah boleh kita menyalahkan salah satu pihak saja karena bagaimanapun mahasiswa adalah produk pendidikan bangsa. Karena pendidikan bangsa itu sebuah sistem, antarvariabel saling terkait, baik itu sistem pengajarannya, pendidikannya, atau pun sistem politik yang berlaku dalam sebuah negara. Mungkin saja dunia pendidikan kita akan berhasil, itupun jika kita siap dalam segala hal. Kalau hanya sebagian, idealisme dicanagkan sebagai cita-cita pendidikan, itu hanya akan menjadi pepesan kosong atau utopis.
    Bukti-bukti kegagalan dunia pendidikan kita adalah terjadinya pemindahan skripsi karya orang lain dengan rangkaian kata-kata menjadi sebuah skripsi baru. Ada juga kebijakan Perguruan Tinggi yang memberikan kesempatan mahasiswa untuk segera menyelesaikan studinya, pertanyaannya adalah bagaimana dengan kualitas mahasiswa tersebut? Naif sekali memang, sebuah negara yang sedang berbenah untuk meningkatkan taraf kualitas pendidikannya hal demikian dilakukan, lebih-lebih kebanyakan hal tersebut dilakukan oleh inisiatif mahasiswanya.
    Tetapi apakah kejadian tersebut tidak terjadi dikalangan pejabat pemerintah? Pada hemat saya, itu terjadi juga, seperti kasus uang pelicin, agar mendapatkan gelar sarjananya tanpa mengeluarkan banyak waktu duduk diam dalam kelas. Adalagi uang pelicin dalam penerimaan pegawai, itu sedikit dari banyak rentetan kasus yang sudah menjadi rahasia umum dan sangat memilukan yang terjadi di negara ini dan dianggap wajar oleh banyak kalangan.
    Karena kondisinya sudah demikian mendukung dan kondusif untuk bertindak demikian, tak ayal kalangan elit mahasiswa melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh orang yang mendapatkan sebutan hebat diatas. Memang, kesalahan tidak semua ditimpakan kepada kalangan mahasiswa. Namun, kenyataannya sekarang, yang banyak menjadi aktor adalah mahasiswa yang mendapatkan gelar macam-macam tersebut. Jika memang gelar tersebut sudah tidak relevan, kemudian apa kiranya gelar yang pantas disandang oleh mahasiswa saat ini.
    Citra mahasiswa saat ini memang tengah merosot keberadaannya dimata masyarakat. Hal ini menjadi tanggung jawab kita semua (red. mahasiswa) untuk mengembalikan citra yang baik tersebut. Hanya saja, mengembalikan keadaan yang sudah ‘rusak’ memang tidak semudah mengedipkan mata, dan membutuhkan waktu yang lama. Pekerjaan ini sebenarnya bisa dilakukan kalau kita sebagai orang yang menyandang “gelar” agent of modernization dapat menempatkan prinsip modern sesuai pada tempatnya.
    Untuk saat ini saja, penafsiran dikalangan mahasiswa terkait modern masih menjadi debat kusir yang panjang. Dan jeleknya, mahasiswa menafsirkan modern itu sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya. Penafsiran tersebut sangat fatal akibatnya. Mahasiswa tidak lagi dapat dipercaya sebagai agen perubahan, agen modernisasi di mata masyarakat namun lebih sering disebut oknum perusak masyarakat. Jika sudah demikian keadaannya jelas bukan hanya memprihatinkan bagi keadaan mahasiswa namun juga bagi kelangsungan bangsa dan negara dimasa yang akan datang.
    Namun demikian, fenomena tersebut merupakan bentuk akumulasi atas kejadian-kejadian masa lampau yang dialami oleh kalangan mahasiswa. Mahasiswa memang senyatanya memiliki beban sejarah yang amat berat dan mau tidak mau mesti dipikul. Persoalannya adalah, mahasiswa hari ini dihadapkan dengan perubahan kondisi yang begitu cepat datangnya. Reformasi ’98 mengakibatkan mahasiswa gagap menerima perubahan iklim politik, demikian pula dengan transformasi budaya yang tidak terbendung dan mengakibatkan kalangan elit mahasiswa tergerus didalamnya. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Amien Ra’is bahwa, gerakan mahasiswa yang dulu bersemangat sekarang mati suri. Gairah gerakan mahasiswa tergantikan dengan semangat hidup bermewah-mewahan akibat kapitalisme.
    Dengan kata lain, mahasiswa hari ini dibesarkan oleh komponen-komponen budaya barat. Namun disatu sisi, kita tidak menapikkan kondisi masyarakat yang terengah-engah akibat krisisi multi dimensional. Hal ini memicu Kejahatan dan kekacauan sosial yang semakin meningkat. Ivan Illich (Menggugat Kaum Kapitalis: 1978), mengatakan bahwa modernisme mengharuskan manusia untuk berprilaku kompetitif. Relevansi ini kemudian memunculkan sebuah reaksi, salah satunya adalah pergeseran nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tak terkecuali dengan kehidupan kampus.
    Peran Perguruan Tinggi dan beban mahasiswa
    Dalam hal ini lah kemudian pertanyaannya, apa peran Perguruan Tinggi dan mahasiswa didalamnya, dalam upaya menata kembali masa depan bangsa?Perguruan tinggi mestilah mampu menjadi kawahcandradimuka bagi mahasiswa-mahasiswa yang ditempa untuk menjadi generasi yang mapan dalam melanjutkan cita-cita negara. Dengan kata lain, perguruan tinggi mesti menekankan kualitas pendidikan baik teori maupun praktek, agar setelah menjadi sarjana, mereka tidak gagap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi didunia luar. Bukan hanya menekankan untuk segera lulus, dan setelah lulus mereka seperti anak ayam kehilangan induk. Inilah faktor mengapa sampai dengan saat ini banyak dinegeri ini ‘sarjana nganggur’. Seperti yang disampaikan oleh Prof.Ruslan Abdulgani dalm bukunya (Tunas Bangsa:1961), Perguruan Tinggi sudah semestinya  berjalan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, bukan sebaliknya.
    Selanjutnya, mahasiswa sebagai agen amanat penderitaan rakyat, sekaligus aktor yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa dimasa yang akan datang. Sepatutnya memanfaatkan waktu mudanya untuk meningkatkan taraf kualitas diri, agar kemudian layak untuk melanjutkan cita-cita seluruh rakyat Indonesia. Sudahi pertarungan ideologi yang hanya merusak dan apalagi memperjuangkan ‘ideologi titipan’ yang menguntungkan kelompok elit tertentu. Bagaimanapun bentuknya penyaluran aspirasi disahkan dinegara demokrasi, namun jangan kemudian dengan menggunakan jargon mahasiswa untuk melakukan tindakan anarkis, apalagi sampai merusak fasilitas umum. Bukahkah fasilitas itu dibuat menggunakan uang rakyat juga?

    BUDAYA ANOMALI DAN WAJAH PENDIDIKAN KITA


    Oleh    : Ahmad Erlangga Ferdianto
    Ketua Umum HMI Komisariat Sosial Politik Unila


    “ Sekarang bukanlah zamannya untuk memulai sesuatu yang tidak kita ketahui. Terutama golongan terpelajar mempunyai tanggung jawab yang lebih berat untuk mendapatkan pengetahuan tentang apa yang mereka anggap suci.” (Dr. Ali Syari’ati).

    Pendidikan adalah sahutan paling ujung yang sampai dengan saat ini masih sempat dipercaya, ketika kecemasan dan hilangnya kepercayaan kepada semua hal. Kita semua cemas akan segala anomali dan kontradiksi yang sehari-hari menerpa layar kesadaran kita. Pada saat frekuensi kecemasan tersebut meningkat dan sementara institusi-institusi lain terlihat “lembek”, maka kecemasan itu pun kian menjadi. Dalam fase kecemasan yang amat tinggi tersebutlah kita menengok sekaligus mendamba akan peranan pendidikan.
    Hematnya bahwa kondisi tersebutlah yang saat ini tengah dihadapi oleh segenap elemen bangsa Indonesia. Ketika berbagai macam informasi mengenai segala tindakan anomali dan perubahan pola sikap dan tata cara sosial merebak diberbagai media massa, yang kemudian diam-diam dalam hati mengundang rasa was-was akan sesuatu hal terjadi dimasa yang akan datang.
    Tersebutlah fakta-fakta yang sangat memilukan dan menggoyahkan kesadaran kita mengenai wajah dunia pendidikan kita saat ini. Selayaknya manusia yang sejak kanak-kanak diperdengarkkan kidung pujian nan indah, mengenai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, kejadian tersebut jauh dari apa yang diajarkan disekolah mengenai nilai luhur Pancasila. Diantara tragedi tersebut ialah tawuran antar mahasiswa yang terjadi di Universitas Lampung (2011), dan daerah-daerah lain di Indonesia. Belum lagi kasus Pemerkosaan, dan pemakai obat-obatan terlarang yang banyak ditemui ternyata pelaku masih berstatus sebagai siswa dan mahasiswa.
    Celakanya, hingga kini kita juga belum memperoleh kabar, seperti apa gerangan penyelesaian kasus-kasus serupa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Harap dicamkan bahwa rentetan kasus tersebut belum ditambah dengan catatan lain -yang mungkin setingkat dibawah- yang terjadi di negeri ini namun luput dari perhatian kita semua. Seperti fenomena menyontek pada saat Ujian Nasional, beredarnya kunci jawaban soal Ujian Nasional, dan sudah menjadi isu Nasional.
    Secara umum kita mengenal bahwa pendidikan dibagi atas pendidikan formal, informal dan pendidikan non formal. Namun, sepertinya dari kesemua itu masih belum menunjukkan dampak yang positif, apalagi dua poin di awal, sampai dengan saat ini masih belum mampu menciptakan manusia-manusia yang unggul. Keadaan demikian menurut Imran DS terjadi karena pendidikan formal hanya bisa menyediakan know-know (keterampilan teknis) , yakni sebuah cara tanpa tujuan. Begitu pula dengan ilmu sosial dan politik dimana menjabarkan tentang kehidupan masyarakat yang ideal dan politik yang bersih hanya berdasarkan diktat dan teori, tanpa mampu diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
    Dengan kata lain, dunia pendidikan sudah mampu memberikan kebutuhan tentang bekal dalam kehidupan praksis manusia. Namun ia membisu tatkala pertanyaan muncul : untuk apa dan kemana bahtera kehidupan ini menuju? Inilah yang tampaknya mendasari mengapa inovasi genetic engineering malahan membuka pintu penyalahgunaan baru, kamjuan dibidang nuklir, justru menawarkan malapetakan baru bagi manusia. Era perdagangan bebas, malah melahirkan godaan-godaan baru. Kehidupan sosial dan politik menawarkan kemewahan bagi beberapa kalangan dan menyengsarakan bagi banyak pihak.
    Disisi lain dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pun cenderung pragmatis dan oportunis dalam rangka mencapai keinginan. Ditambah hilangnya rasa persatuan dan rasa memiliki bangsa ini, sehingga meminjam istilah Achdiat K. Mihardja adalah bangsa kambing yang bermakna bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah saling mengacuhkan satu sama lain, dimana kepentingan pribadi berada jauh diatas kepentingan kelompok. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat kehilangan sentuhan rohaninya. Yaitu sesuatu yang berpotensi memandu ke arah yang lebih beradab dan berbudaya.
    Secara mengharukan, kenyataan ini dilukiskan oleh Charles Darwin dalam otobiografinya. Dalam tulisan yang menariki itu, Darwin menulis (meminjam dari EF Schumacher, 1973), “hilangnya cita rasa itu berarti lenyapnya kebahagiaan, barangkali merusak kecerdasan dan lebih-lebih mungkin berbahaya bagi moral, karena hal itu melemahkan kehidupan emosi kita”.
    Hampir serupa pula, Dr. Ali Syari’ati melalui bukunya (Paradigma Kaum Tertindas, 1978) menyampaikan “Pendidikan terdiri atas bentuk khusus yang sengaja diberikan kepada ruhani manusia demi untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sebab jika orang dibiarkan berbuat semaunya, maka pertumbuhannya tidak akan sesuai dengan tujuan-tujuan kehidupan sosial”.
    Kehilangan sentuhan ronahiah itulah yang akan menimpa manusia bila senantiasa mengejar kesenangan duniawi serta berpikir semata dalam kerangka akumulasi kapital. Kenyataan ini menjadi kian runyam ketika fondasi bangunan pendidikan justru turut berperan dalam menepikan aspek rohaniah itu dengan pemujaan yang berlebihan akan keterampilan teknis, tanpa diimbangi dengan penguatan rohaniahnya.
    Hanya  bukan berarti argumentasi tersebut menganulir prihal pendidikan formal yang sarat akan kepatuhan, tata tertib dan upacara. Cuma semestinya “tahu diri” bahwa hal itu pun ternyata tidak mampu menjadi acuan perumusan gemilang bagi pembaharuan sumber daya manusia. Disamping itu mesti ada pebenahan yang harus segera dilakukan dalam rangka memperbaiki kekurangan yang ada. Oleh sebab itu, dalam rangka menjadikan dunia pendidikan sebagai alat memerangi masalah yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini, dan menciptakan manusia yang unggul bukanlah hanya terletak pada pundak pemerintah seorang. Namun segala elemen bangsa sudah semestinya bertanggung jawab pula dalam hal ini.
    Pada umumnya menurut Ali Syari’ati ada lima faktor yang membangun pribadi seseorang. Pertama ibunya yang memberikan kepadanya struktur dan dimensi ruhaniahnya. Dengan rasa penuh kasih sayang sambil membelai dan menyusuinya sang ibu memeliharan ruhani serta menanamkan pendidikan sejak awal pada anaknya. Faktor kedua yang berperan adalah ayahnya, setelah itu dimensi yang ketiga adalah sekolahnya yang akan membentuk karakter pribadi seseorang. Faktor keempat adalah masyarakat dan lingkungan. Semakin kuat lingkungannya maka semakin besarlah pengaruh edukatifnya atas seseorang. Dan faktor yang terakhir adalah kebudayaan umum masyarakat ataupun kebudayaan umum dunia secara keseluruhan.
    Persoalannya adalah mampukah keluarga bersama-sama dengan pemerintah (baca. Sekolah), bersinergi dalam menjalankan tugasnya; yaitu menanamkan pengertian bahwa pertumbuhan diri merupakan ‘matahari’ bagi segala gerak pendidikan dan daya inisiatif dan kreativitas adalah’mata uang’ yang nilainya tak pernah kendor, biarpun inflasi tiba dilangit.
    Tulisan singkat ini dibangun dengan asumsi bahwa pendidikan, dan secara khusus keluarga, mempunyai peranan strategis dalam upaya mencegah (preventif) kejadian-kejadian serupa dimasa yang akan datang. Semoga kita semua melihat dari paradigma pendidikan dan urgensi pendidikan keluarga maupun pendidikan formal. Dimana pemerintah dan keluarga bertanggung jawab atas terbentuknya karakter sifat dari masing-masing individu, dan kegagalan pendidikan adalah kegagalan kita semua. Kalau bangsa ini tengah krisis moral maka keluarga dan institusi pendidikan sudah sepatutnya menciptakan pendidikan yang membentuk moral anak bangsa yang kedepan akan bertanggung jawab mengemban tugas sebagai generasi bangsa dimasa yang akan datang.

     

    Blogroll

    Label 7

    Label 4

    Label 5

    Label 6

    Video Category

    Label 10

    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. HMI KOMSOSPOL UNILA - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger